Aku mencintainya sejak dulu. Dia juga mencintaiku.
Meski kami tak bersama, meski kami sudah punya pasangan masing-masing, hati kami masih bertaut.
Dulu aku tak pernah mempertanyakan tentang kenapa ia memilih jalan kami untuk seperti ini.
Dengan naifnya aku berpikir, bahwa memang cinta tak harus saling terikat secara status kalau hati sudah bertaut erat.
Tapi ternyata aku salah.
Sesalah tujuanku menulis selama ini.
Aku menulis untuknya, karenanya. Aku berhenti menulis juga karenanya.
Ketika seseorang bertanya alasanku menulis, aku enggan menjawab.
Pertanyaan itu sekrusial untuk siapa aku hidup di dunia ini.
Memang, hanya orang bodoh yang menggantungkan hidupnya pada satu orang yang kemudian mencampakkannya.
Dan orang bodoh itu aku.
***


Post a Comment